“Bolehkah Berjanji pada Anak Untuk Meningkatkan Kedisiplinan?”

“Bolehkah Berjanji pada Anak Untuk Meningkatkan Kedisiplinan?”

by Miranti Rasyid S.Psi
Magister Profesi Psikologi Pendidikan
Universitas Airlangga Surabayamiranti

Latar Belakang
•Beberapa orangtua mengeluhkan anak “nakal”, tidak bisa diatur, dan tidak nurut dengan perintah orangtua. Kemudian, orangtua memberikan sesuatu berupa reward, ancaman, atau kebohongan agar anak mau nurut dengan perintah orangtua.
•Ada beberapa kesalahpahaman orangtua dalam memberikan janji yang berupa reward, ancaman, atau kebohongan agar anak mau menuruti perintah dan keinginan orangtua. Sehingga, hal tersebut justru bukan meningkatkan kedisplinan diri, namun menurunkan kualitas pribadi anak itu sendiri.

Jenis-jenis janji pada anak
•Janji yang berupa reward atau hadiah
•Janji yang berupa ancaman
•Hal-hal yang menakutkan
•Berbohong
•Alasan yang tidak realistis

Janji yang berupa reward atau hadiah
“Ayo habiskan makanannya, nanti bunda kasih permen”
“Dek, jangan lupa kerjakan Prnya, habis itu kamu boleh jajan permen”
Biasanya, setelah anak selesai mengerjakan tugasnya, orangtua atau anak cenderung lupa dengan janji yang diberikan dan umumnya orangtua tidak berusaha untuk mengingatkan.

Janji yang berupa ancaman
“Jangan nakal, nanti Ibu tinggalkan kamu sendirian, terus diculik sama hantu”
“Jangan nangis, nanti Ibu tinggalkan kamu sendirian, terus diajak jalan sama orang yang tidak dikenal”
Seringkali diucapkan ditempat umum oleh orangtua agar anak dapat tenang dan diam mengikuti kegiatan orangtuanya

Hal-hal yang menakutkan
“Jangan nakal, nanti kamu disuntik dokter”
Cenderung diucapkan oleh orangtua yang mengetahui ketakutan anak. Sebagian anak cenderung memiliki pengalaman traumatis di masa lalu dan orangtua menjadikan ketakutan anak sebagai “senjata” agar anak mau mengikuti keinginan orangtua

Berbohong
“Mainannya jelek, cari di tempat lain saja”
“Ayo, kita cari Ayah dulu, minta duitnya”

Alasan yang tidak realistis
“Ayo habiskan makanannya, nanti nasinya nangis”
Anak-anak memang mudah percaya dengan cerita-cerita dongeng atau khayalan, namun sebaiknya orangtua menghindari hal ini agar anak bisa berpikir praktis dan realistis.

Dampak janji
•Janji pemberian reward atau hadiah dapat berakibat buruk karena anak akan terbiasa dimanja, baru mau melakukan perintah ketika ada hadiahnya.
•Jika orangtua lalai menepati janji, anak akan belajar bahwa ia bisa dengan mudahnya berjanji tanpa menepati
•Hal-hal yang mengancam anak dapat berdampak buruk karena menanamkan ketakutan pada suatu subjek pada anak, misalnya takut hantu. Mereka akan menganggap penculik atau hantu merupakan sosok yang mengancam dimana-mana. Memang, kita harus selalu waspada dengan penculik, namun bukan menakutinya. Selain itu, anak akan cenderung takut dengan orang asing yang baru ditemuinya

•Senjata yang secara tidak sadar digunakan oleh orangtua adalah menakuti anak. Anak akan cenderung semakin takut dan trauma dengan hal tertentu, bahkan bisa berdampak pada fobia (ketakutan yang berlebihan).
•Jika berbohong, dampaknya anak akan belajar bahwa berbohong adalah sesuatu yang wajar dan boleh dilakukan kapan saja.

Jika janji tidak ditepati
•Sebelum janji ditepati, biasanya anak sudah membayangkan terwujudnya janji tersebut dan memupuk harapannya sampai saat yang dijanjikan pada anak. Jika itu tidak ditepati, anak akan marah dan dapat berpengaruh buruk terhadap hubungan orangtua-anak.
•Orangtua dapat kehilangan wibawa dihadapan anak
•Anak dapat kehilangan rasa percayanya terhadap orangtua
•Anak akan meniru tingkah laku orangtuanya
•Anak merasa memperoleh peluang untuk dengan sengaja melanggar aturan yang telah disepakati bersama.

Saran ketika berjanji
•Berikan segera hadiah yang sudah dijanjikan pada anak
•Jelaskan dari awal pada anak, apa yang menjadi hak dan kewajibannya.
•Jangan terlalu mudah memberikan janji pada anak
•Jika orangtua tidak bisa memenuhi janji, ungkapkan alasan jujur dan mudah dimengerti oleh anak. Jangan melemparkan kesalahan pada orang lain.
•Jika anak marah, redakan kemarahannya dengan mengakui kesalahan diri sendiri dan meminta maaf pada anak. Hal ini dapat mengajarkan tanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan. Ikatan anak dan orangtua juga semakin kuat, karena anak merasa dihargai di dalam keluarga.
•Bangun komunikasi positif dan terbuka dengan anak, jika ada yang melakukan kesalahan
•Kemudian, minta anak untuk mengutarakan perasaannya. Yakinkan ia bahwa hal tersebut tidak membuat kita marah. Hal ini agar anak dapat mengungkapkan dan belajar jujur dengan apa yang sedang ia rasakan.
•Setelah itu, diskusikan apa yang diinginkan oleh anak sebagai bentuk konsekuensi kesalahan orangtua dalam menepati janji. Pastikan bahwa janji sudah ditepati.

Alternatif Metode
•Pemberian janji yang berupa reward, ancaman, atau kebohongan saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian orangtua karena sudah dianggap tidak efektif untuk menumbuhkan kesadaran disiplin pada anak.
•Selain anak dapat ketergantungan pada hadiah, metode tersebut juga dapat menurunkan kualitas pribadi anak
•Penggiat pendidikan di Pulau Jawa mulai memperkenalkan metode disiplin positif bagi pengajar dan orangtua. Disiplin positif dipercaya mampu menumbuhkan kesadaran diri anak untuk patuh terhadap aturan baik di rumah dan di sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *