Disiplin Positif Pada Anak untuk Meningkatkan Kualitas Pribadi Anak

Disiplin Positif Pada Anak untuk Meningkatkan Kualitas Pribadi Anak

12541106_10208705990147511_4380941941066154843_nPengantar
•Disiplin positif adalah konsep lama dari Alfred Adler dan Rudolf Dreikurs yang mulai digunakan dan dikaji kembali oleh para pendidik karena munculnya banyak kekerasan yang terjadi di rumah dan di sekolah.
•Displin positif merupakan sistem disiplin yang biasa digunakan di rumah atau di sekolah yang memfokuskan pada tingkah laku positif anak.
•Guru dan orangtua bisa mengajarkan dan mendorong munculnya tingkah laku baik, pada saat mengelola tingkah laku buruk tanpa harus menyakiti anak baik secara verbal maupun fisik.

•Disiplin bukan meminta anak untuk berperilaku yang sesuai dengan yang orangtua mau atau sebaliknya menyuruh anak berhenti berperilaku yang tidak sesuai dengan situasi tertentu.
•Namun, disiplin merupakan suatu proses dimana melalui arahan positif dan koreksi perilaku negatif, anak diajarkan untuk berperilaku sesuai dengaan aturan dan nilai keluarga

Manfaat Disiplin Positif
•Melalui disiplin positif, anak belajar untuk memperlakukan diri mereka sendiri
•Anak yang diberi kebebasan untuk memilih, akan semakin mampu memecahkan masalahnya sendiri, kreatif dalam mencari alternatif solusi permasalahan
•Anak yang mendapatkan banyak pujian akan tumbuh menjadi individu dewasa yang percaya diri dan menghargai diri sendiri.
•Karena jika terlalu banyak dikritik, akan bertumbuh menjadi individu dewasa yang kurang menghargai diri sendiri, kurang percaya diri dan menganggap dirinya banyak kekurangan
•Sehingga, nantinya muncul kesadaran diri untuk patuh pada aturan baik di rumah maupun di sekolah

Rumus Displin Positif
•Disiplin Positif = 90% (arahan) + 10% (koreksi)
•Arahan positif porsinya selalu lebih banyak daripada koreksi negatif
•Orangtua harus mampu MENGONTROL EMOSI ketika perilaku negatif anak muncul, sebelum orangtua merespon perilaku anak
•Efektif atau tidaknya tergantung pada hubungan orangtua dengan anak. Jika ingin berjalan lancar, jaga hubungan antara orangtua dan anak.
•Fokus pada arahan, bukan koreksi. Berikan rewards (bukan berupa barang, namun perhatian, penerimaan, persetujuan, pujian, penghargaan, afeksi/kasih sayang dari orangtua

•Ketika anak melanggar aturan atau berperilaku buruk, kita perlu mencari tahu apakah anak kita memahami aturan yang diharapkan. Jika belum, maka kita perlu memberikan arahan kepadanya. Misalnya, ibu tidak mau kamu bermain-main dengan pisau, karena itu dapat melukaimu atau kamu akan sakit nantinya.
•Jika anak sudah memahami aturan, namun tetap memilih untuk berperilaku negatif, maka kita perlu memberikan koreksi. Hal itu untuk menunjukkan bahwa kita serius menegakkan aturan, contohnya: “kamu tahu kalau mengambil barang ibu tanpa ijin adalah salah. Kalau begitu kamu harus membantu ayah membersihkan rumah selama satu jam, setelah itu baru boleh bermain. Lain kali, kalau kamu ingin meminjam barang ibu, kamu harus tanya atau ijin pada ibu dulu ya”

Metode Disiplin Positif
•I-Messages : fungsinya untuk mengkomunikasikan kebutuhannya. Tidak menyalahkan, tidak menilai tingkah laku yang dipermasalahkan. Menggambarkan bagaimana tingkah laku negatif yang muncul dapat berdampak bagi orang lain, dengan menyatakannya dan bagaimana mempengaruhi perasaannya.
•I-Messages mengkonfrontasi tingkah laku yang dikeluhkan, bukan orang yang melakukan
•Contoh: Jika kamu membuang kotak pasir di lantai, maka saya harus menghabiskan waktu untuk membersihkannya, dan saya tidak suka itu.

•Anak harus tahu TUJUAN dan APA YANG ORANGTUA ATAU GURU INGINKAN dari dirinya. Jangan sampai ada mistaken goals atau tujuan yang tidak diketahui oleh anak.
•Natural consequences, yaitu konsekuensi alami. Orangtua boleh membiarkan anak ketinggalan mobil jemputan sekolah atau membolehkan anak memegang pinggiran gelas yang berisi air panas (agak panas) agar anak-anak belajar bahwa tingkah laku mereka memiliki konsekuensi dan dapat memahami serta mengapresiasi bahwa orangtua membantu atau melarang dengan tujuan agar mereka tidak mendapat konsekuensi negatif. Efektif karena orangtua tidak perlu komentar dan anak bisa belajar memaknai setiap pengalamannya sendiri.

•Logical Consequences atau Konsekuensi Logis adalah ketika anak harus memilih salah satu pilihan, membuat keputusan, dan harus menerima konsekuensinya. Contohnya, anak harus memilih film apa yang ingin ia tonton dan ia tidak bisa menonton keduanya dalam satu waktu.

Ada 4 kriteria R yang dapat menjadi konsekuensi, yaitu:
•Responsibility atau tanggung jawab (konsekuensi memungkinkan anak untuk bertanggung jawab dengan tingkah lakunya)
•Reasonable atau masuk akal (konsekuensi harus masuk akal)
•Respectful (konsekuensi harus diberikan dengan tetap menghormati anak)
•Related (konsekuensi harus secara langsung berkaitan dengan pilihan yang ditawarkan)

•Special Moments adalah saat dimana anak mendapatkan perhatian yang spesial dengan kualitas khusus sebagai bentuk dedikasi orangtua kepada anak di waktu-waktu tertentu. Special moments bertujuan untuk meningkatkan self esteem (harga diri) anak dengan melibatkan afeksi hubungan secara mendalam, misalnya memeluk anak ketika akan tidur, dll.

Saran
•Fokus untuk meningkatkan perilaku positif anak, bukan perilaku negatifnya. Berikan pujian dan apresiasi jika perilaku positif muncul.
•Jaga emosi orangtua ketika sedang melihat anak memunculkan perilaku negatif. Tarik nafas dan rileks dulu, kemudian baru merespon. Hal ini agar orangtua tidak mengeluarkan atau merespon perilaku anak secara negatif
•Bersikap konsisten dengan pilihan sistem yang digunakan

Oleh : Miranti Rasyid S.Psi
Magister Profesi Psikologi Pendidikan
Universitas Airlangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *