Psikolog Bukan Cuma Untuk Anak Bermasalah

Psikolog Bukan Cuma Untuk Anak Bermasalah

Psikolog Bukan Cuma Untuk Anak Bermasalah

BIRO PSIKOLOGI MATA HATI

Yulia Wahyu Ningrum S.Psi., M.Psi., Psikolog
Yulia Wahyu Ningrum S.Psi., M.Psi., Psikolog

Pengantar
 Selama ini, mungkin psikolog dihadirkan hanya saat anak dan keluarga sedang memiliki masalah saja. Padahal bimbingan psikolog diperlukan sejak anak usia 2,5 tahun, dengan atau tanpa masalah. Anak yang berusia 2,5 tahun sudah terlihat sifat, bakat, perkembangan gelombang otak, dan ketertarikannya terhadap segala hal.
 Sebagai orangtua, bila merasa kurang cukup baik dalam memahami potensi dan tumbuhkembang anak, maka tak ada salahnya menggunakan jasa psikolog.
 Pada dasarnya, peran psikolog adalah konselor keluarga. Ia akan menjembatani kebutuhan anak dengan perlakuan dari orangtuanya. Psikolog dapat berperan sebagai teman diskusi dan sharing bagi keluarga.

Menggali Bakat Anak
 Ada 2 poin penting yang didapat orangtua dari, berdasarkan hasil pemeriksaan psikolog. Salah satunya adalah potensi atau bakat si anak yang akan diketahui secara tepat. Menurut penelitian, bakat cukup penting diketahui oranua agar nantinya mereka bisa memberikan stimulasi yang sesuai bagi anaknya.
 Orangtua kerap melakukan kesalahan dalam memberikan stimulasi kepada anak yang menyangkut bakatnya. Kesalahan tsb biasanya tidak disadari oleh orangtuanya. Misalnya, memberikan kursus atau les yang terlalu banyak kepada anak.
 Terlalu banyak kursus atau les yang kurang tepat bagi si anak akan berdampak pada anak, yaitu bisa mengalami stres atau depresi karena terlalu banyak stimulus dari luar. Sementara otak si anak belum mampu menerima dan mencerna segala macam informasi tersebut.
 Stres si anak karena menerima banyak infprmasi dari luar sebenarnya dapat dicegah. Caranya cukup mudah, dengan mendatangi psikolog yang tepat. Dari pemeriksaan yang mendalam, maka diperoleh informasi mengenai kecenderungan bakat dan potensi yang dimiliki si anak. Dari situlah, orangtua bisa memberikan kursus yang sesuai dengan bakat si anak.

Proses Tumbuh Kembang Anak
 Sebagian orangtua mungkin sudah merasa proses tumbuh kembang anaknya sudah berjalan dengan diharapkan. Padahal belum tentu juga. Contoh : ada orangtua yang cemas dengan kondisi anaknya yang berusia 3 tahun dan belum bisa mengenal tulisan huruf dan angka. Padahal sesuai dengan perkembangan otaknya, anak secara umum mengenal huruf dan angka di usia 4 tahun ke atas.
 Anak itu perkembangan otaknya bertahap, orangtua patut mengetahuinya. Janga sampai si anak mendapatkan stimulus yag tidak sesuai dengan usianya. Stimulus berlebihan bisa berakibat perkembangan kesehatan mental si anak menjadi tidak baik.
 Patut dipahami pula, tiap anak memiliki perkembangan otak yang berbeda. Ada yang cepat & aktif, ada juga yang lamban dan pasif. Hal yang juga harus dipahami orangtua adalah, anak yang sehat secara kejiwaan ditandai dengan perilaku dan tumbuh kembang yang sesuai dengan tahapan usianya, serta dapat beradaptasi baik dengan orang ataupun lingkungan baru.
Gangguan Konsentrasi Belajar
 Masalah yang pada umumnya menimpa anak-anak Indonesia adalah gangguan konsentrasi belajar di sekolah.
 Penyebab yang paling dominan dari gangguan konsentrasi belajar adalah metode belajar yang salah, karena tidak sesuai dengan kemampuan si anak. Contoh : Anak yang cara belajarnya cenderung ke sisi visual, itu artinya ia lebih mudah menerima informasi melalui penglihatan. Maka selain menjelaskan secara lisan, sebaiknya guru juga menunjukkannya melalui gambar (visualisasi).
 Jika guru atau orangtua hanya menjelaskan pelajaran melalui omongan, anak akan sulit mencerna informasi yang disampaikan. Pada akhirnya, perhatiannya pun teralih dan membuatnya sulit berkonsentrasi. Akibatnya nilai-nilai di sekolah atau akademisnya tal maksimal. Oleh sebab itu, unutk kasus seperti ini dapat diatasi dengan menyesuaikan metode pengajaran dengan tipe belajar pada setiap anak. Cermati apakah tipe belajarnya tergolong visual, auditori atau kinestetik.
Membangun kepercayaan diri
 Saat anak memasuki usia remaja, adalah saat dimana anak menghadapi masalah yang leih kompleks. Misalnya, bully dari teman, baru putus dengan pacar, standar sekolah yang tinggi, persaingan di sekolah, atau padatnya jadwal kursus, semua bisa berdampak pada kesehatan mental si anak.
 Semua permasalahan tersebut alangkah baiknya jika si anak sudah “bersahabat” dengan psikolog sejak dini. <anfaat pada anak untuk ke depannya, bila kondisi psikologisnya sudah tergali dengan baik, si anak akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Karena si anak sudah yakin dengan apa yang menjadi pilihannya di masa depan.
 Ketika akan lulus SMA, anak tal lagi bingung memilih kurusan kuliah yang sesuai. Karena ia sudah tau benar apa yang menjadi minat dan bakatnya. Masalah-masalah kenakalan remaja pun bisa diminimalisir dengna terbukanya si anak terhadap orangtua dan psikolog.

Pilih Psikolog yang Tepat
 1. Pastikan spesialisasi psikolog pilihan Anda. Sesuaikan dengan kebutuhan dan masalah yang tengah dihadapi anak.
 2. Setelah sesi pertama selesai, tanyakan kepada anak abagaimana perasaannya.Cari tahu apakah merasa nyaman dan mengerti apa yang diobrolkan bersama psikolog.
 3. Jangan ragu untuk mengganti psikolog jika anak merasa tidak nyaman. Kenyamanan anak saat bercerita dengan psikolog adalah prioritas utama bagi orangtua. Saat anak merasa nyaman, maka semakin banyak informasi yang tergali dan hal ini memudahkan psikolog dalam mencari sumber masalah dan menentukan jenis terapi yang tepat.
 4. Pastikan anak tidak terbebani. Jangan sampai dengan mendatangi psikolog, si anak justru kian terbebani akibat merasa tidak nyaman bahkan takut.

Tahap Psikolog menangani Anak-anak:
 1. Pemeriksaan informasi awal
 Sebelum memulai konsultasi dengan anak, biasanya psikolog terlebih dahulu mengumpulkan informasi awal untuk mengetahui kondisi kejiwaan si anak.
 Informasi tersebut biasanya berasal dari wawancara dengan orangtua & anak, menelaah riwayat kelahiran, dan beberapa tes psikologis.
 2. Buat senyaman mungkin
 Ruangan psikolog biasanya dirancang dan dibuat senyaman mungkin, dihiasi dengan gambar lucu dan mainan yang menarik bagi si anak agar ia merasa betah berada di dekat psikolog.
 3. Obrolan santai
 Psikolog biasanya tak langsung memulai obrolah ke inti masalah. Biasanya psikolog akan memulai obrolan ringan.
 4. Penggalian informasi
 Hubungan kepercayaan antara anak-psikolog. Diharapkan si anak bisa terbuka dan mengungkapkan apa yang dirasakannya.
 5. Memilih jenis terapi.
 Setelah diketahui akar permasalahannya, psikolog akan menentukan jenis terapi yang diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *