Kesehatan mental tidak hanya penting saat muda, tetapi menjadi fondasi kualitas hidup hingga usia lanjut. Pada masa dewasa dan lansia, individu menghadapi berbagai perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi kondisi mental. Dalam perubahan tersebut dibutuhkan pemahaman psikologis agar seseorang tetap sehat, produktif, dan bahagia sepanjang hidupnya Pemahaman mengenai psikologi dewasa dan lansia menjadi sangat penting agar individu mampu beradaptasi secara sehat, mempertahankan kualitas hidup, serta mencapai kesejahteraan psikologis hingga usia lanjut

Sekitar 14,1 % orang dewasa berusia 70 tahun ke atas memiliki ganggaun mental (Global Burden of Disease, 2021). Gangguan mental yang paling umum ditemukan pada orang dewasa adalah depresi dan kecemasan (WHO, 2025). Di Indonesia sendiri, prevelensi depresi pada lansia menunjukan angka yang cukup tinggi yakni mencapai 8,9%, dengan depresi menjadi gangguan yang paling umum di kalangan lansia, diikuti oleh kecemasan, skizofrenia, dan gangguan bipolar (Fitrisari et.al., 2025). Berdasarkan tahap perkembangan Erik Erikson, lanjut usia berada fase kedelapan. Di tahap ini konflik utama yang dialami adalah integritas versus keputusasaan, dimana individu memandang berdasar pengalaman, evaluasi, penafsiran akan terjadinya perubahan dalam hidup seperti pensiun, penyakit, kebutuhan merawat diri, dan kehilangan pasangan (Shalafina, et.al., 2023). Perubahan-perubahan ini menjadi stresor yang tidak menyenangkan, berdampak munculnya masalah mental dan psikososial (Ayuni, 2018)

Tantangan Psikologis pada Masa Dewasa

Pada masa dewasa dan usia lanjut, kesehatan mental individu terbentuk tidak hanya dari lingkungan fisik dan sosial namun juga dari adanya dampak kumulatif dari pengalaman hidup sebelumnya serta stresor spesifik yang berkaitan dengan penuaan. Orang lansia lebih sering mengalami peristiwa tidak mengenakan seperti kehilangan orang terkasih, penurunan pendapatan atau berkurangnya rasa tujuan hidup setelah pensiun. Terlepas dari banyak kontribusi mereka kepada masyarakat, banyak orang lanjut usia menjadi sasaran ageisme, yang dapat sangat memengaruhi kesehatan mental seseorang (WHO, 2025).

Faktor risiko utama untuk kondisi kesehatan mental di usia lanjut seperti adanya isolasi sosial dan rasa kesepian. Begitu juga adanya pelecehan terhadap orang lanjut usia, yang mencakup segala jenis pelecehan fisik, verbal, psikologis, seksual, atau finansial, serta pengabaian. Pelecehan terhadap orang lanjut usia memiliki konsekuensi serius dan dapat menyebabkan depresi dan kecemasan. Beberapa lansia berisiko lebih tinggi mengalami depresi dan kecemasan, karena kondisi hidup yang buruk, kesehatan fisik yang kurang baik, atau kurangnya akses terhadap dukungan dan layanan berkualitas (WHO, 2025).

Upaya Menjaga Kesehatan Mental Dewasa

Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:

Strategi Menjaga Kesehatan Mental Lansia

Upaya yang dapat dilakukan meliputi:

Peran Keluarga dan Masyarakat

Keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental dewasa dan lansia. Dukungan emosional, komunikasi yang terbuka, serta lingkungan yang inklusif dapat membantu individu merasa dihargai dan diterima. Masyarakat juga berperan dalam mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan mental dan menyediakan layanan pendukung yang memadai.

Menurut Gunawan & Sulasti (2022), dukungan keluarga diantaranya :

Peran Masyarakat:

Sumber Acuan

Leave a Reply