Otak, bagian organ terkecil manusia yang terlindung didalam batok kepala. Otak manusia menjadi organ yang sangat kompelks dan penting karena otak merupakan pusat sistem syaraf dan berfungsi sebagai pusat kendali dan koordinasi seluruh aktifitas biologis, fisik, dan sosial dari seluruh tubuh, begitu juga pikiran, emosi dan perilaku manusia dalam kesehariannya (Amin, 2018). Namun, bagaimana sebenarnya otak mengubah impuls listrik menjadi perilaku nyata seperti berbicara, tertawa, atau bahkan merasa cemas? Mari kita telusuri!
Otak: Pusat Pengendali Segala Aktivitas
Otak memiliki 100 miliar sel neuron dan 1 trilyun sel neuroglia. Setiap neuron mampu membangun 10.000 cabang dendrit bahkan bisa mencapai 100.000, sehingga akan terbentuk 1000 trilyun sinapsis atau yang dikenal sebagai koneksi komunikasi (Rakhmat dalam Amin, 2018). Di dalam otak terdapat sistem koordinasi saraf yang saling terhubung, memberi sinyal untuk meningkatkan laju jantung hingga kecepatan dalam berpikir (Jannah, 2023). Sistem saraf inilah yang kemudian bekerjasama dengan sistem saraf tepi untuk memberi kemampuan manusia dalam melakukan berbagai aktivitas — mulai dari yang sederhana seperti mengedipkan mata, hingga yang kompleks seperti membuat keputusan penting.

Struktur Otak dan Fungsinya
Otak manusia utamanya terbagi menjadi tiga bagian yakni, otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum) dan batang otak (brainstream). Agar dapat memahami perilaku, kita perlu mengenal bagian-bagian utama otak dan perannya.
a. Otak besar (Cerebrum)
Otak besar (cerebrum), bagian terbesar dalam otak manusia sekitar -+80% dari berat keseluruhan otak. Cerebrum menjadi pusat aktivitas mental manusia seperti memori, intelektual, kesadaran dan pertimbangan. Adanya otak besar membuat manusia dapat berpikir, berbicara, dan mengendalikan pikirannya (Amin, 2018). Selain itu Cerebrum juga sebagai pusat kontrol otot dan kepribadian (Jannah, 2023). Di dalam cerebrum terdapat sel-sel saraf yang terselubung (myelin) dimana memiliki peran dalam menyampaikan informasi antara otak dan saraf tulang belakang.
Otak besar (cerebrum) terbagi menjadi dua belahan yang dikenal dengan hemisfer, yaknik bagian kiri dan kanan. Hemisfer kanan biasanya akan mengontrol sisi kiri tubuh, sedangkan hemisfer kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Kedua hemisfer terhubung oleh struktur jaringan saraf bernama corpus callosum.
- Hemisfer kanan dikenal sebagai otak irasional, memiliki peran dalam kaitannya kreativitas, warna, musik, seni, desain dll. Selain itu juga, hemisfer kanan juga memiliki fungsi dalam mengontrol dan koordinasi bagian tubuh secara bersilangan (Jannah, 2023).
- Hemisfer kir dikenal sebagai otak rasional, bekerja secara linier, berkesinambungan, berperan dalam hal kaitannya logika-rasional, matematika, kata dan bahasa (Jannah, 2023).

Cerebrum juga terbagi menjadi dua lapisan, lapisan luar disebut cortex cerebri (materi abu-abu) dan lapisan dalam (materi putih). Pada cortex cerebri terbagi menjadi empat lobus.
- Lobus frontal – bagian terdepan cerebrum (dibelakang dahi). Berfungsi dalam mengontrol emosi, memori, perilaku, gerakan, ucapan, kepribadian dan funsgi intektual (diantaranya seperti menalar, problem solving, berpikir, pengambilan keputusan dan perencanaan)
- Lobus parietal – terletak di bagian tengah (puncak kepala). Berfungsi dalam mengontrol sensasi, sentuhan, penekanan, suhu, nyeri dan mengendalikan orientasi spasial (seperti ukuran, bentuk dan arah).
- Lobus temporal – posisi berada di samping kanan dan kiri otak. Memiliki fungsi dalam mengontrol pendengaran, emosi, ingatan, dan bicara atau produksi bahasa.
- Lobus oksipital – berada di belakang. Berfungsi dalam mengontrol penglihatan sehingga dapat menerima, memproses, dan menerjemahkan informasi sensoris.
b. Otak Kecil (Cerebellum)
Otak kecil (cerebellum) posisi berada dibagian belakang kepala tepatnya dibawah lobus oksipital. Cerebellum memiliki fungsi dalam keseimbangan, koordinasi tubuh, koordinasi otot dan gerakan halus (Jannah, 2023). Cerebellum terbagi menjadi tiga bagian :
- Vestibulocerebellum (anrcheocerebellum),– terdiri dari flocculonodular lobe dan lingula. Berfungsi dalam mengendalikan keseimbangan, otot aksial dan proksimal, irama pernafasan, pergerakan kepala dan mata (stabilisasi pandangan).
- Spinocerebellum (paleocerebellum) – Berfungsi dalam mengendalikan otot yang berhubungan dengan postur dan keseimbangan tubuh.
- Pontocerebellum (neocerebellum) – Berfungsi dalam keseimbangan tubuh, kecepatan serta ketepatan pergerakan tubuh dan perkataan.
c. Batang Otak Batang otak, terdiri dari otak tengah, pons dan medulla. Bagian otak ini mengontrol fungsi kehidupan dasar pernafasan, denyut jantung, suhu tubuh, proses pencernaan, dan lain-lain.

Dari Pikiran ke Perilaku: Prosesnya
Ketika kamu memutuskan untuk melakukan sesuatu — misalnya, mengangkat tangan — prosesnya melibatkan banyak area otak:
- Korteks prefrontal membuat keputusan: “Saya ingin mengangkat tangan.”
- Korteks motorik mengirimkan sinyal ke otot-otot lengan.
- Otot merespons sinyal listrik tersebut, dan tanganmu pun bergerak.
Perilaku yang tampak sederhana ternyata merupakan hasil kerja sama kompleks antara berbagai bagian otak dan sistem saraf.

Peran Neurotransmiter dalam Membentuk Perilaku
Perilaku juga dipengaruhi oleh zat kimia otak yang disebut neurotransmitter (NT).
NT terdiri dari molekul yang memperkuat, mentransmisikan, dan mengubah sinyal di dalam sel, menjadi pemain kunci dalam fungsi otak, perilaku, dan kognisi (Teleanu et al. (2022).
Beberapa di antaranya:
- Dopamin → memicu rasa senang dan berperan dalam memperkuat perilaku tertentu, kaitannya dengan penghargaan otak, yang memengaruhi motivasi, kesenangan, dan perilaku berorientasi tujuan.
- Serotnin → memiliki pengaruh pada pengaturan suasana hati, perasaan sejahtera, dan memiliki hubungan dengan sifat-sifat seperti ketelitian dan keramahan. Selain itu mengatur tidur dan nafsu makan.
- Adrenalin (Epinephrine) → memicu respons “fight or flight” saat stress, mempengaruhi kewaspadaan dan gairah.
- Oksitosin → dapat dikenal sebagai “hormon cinta”, memperkuat ikatan sosial dan empati.
- Asetilkolin → penting untuk gerakan volunter, pembelajaran, memori, dan pola tidur.
- GABA → sebagai neurotransmiter inhibitor, menangkal sinyal eksitatori dan penting untuk mengatur kecemasan dan suasana hati.
- Glutamat → neurotransmiter eksitatori utama di otak, penting untuk banyak fungsi saraf, termasuk kognisi dan pembelajaran.
Keseimbangan neurotransmiter ini berperan penting dalam menentukan apakah seseorang merasa bahagia, cemas, atau tenang.
Pengalaman Membentuk Otak: Konsep Neuroplastisitas
Otak manusia dapat berubah sepanjang hidup — fenomena ini disebut neuroplastisitas. Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk berubah, melakukan remodeling, dan reorganisasi dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk beradaptasi terhadap situasi-situasi baru (Larasai dan Nurdian, 2019). Setiap pengalaman baru (belajar bahasa, bermain, musik, atau menghadapi stres) dapat mengubah hubungan antar-neuron. Karenanya perilaku seseorang dapat berkembang dan berubah seiring waktu.

Mengapa Pemahaman Akan Otak Mempengaruhi Perilaku Kita Adalah Hal Yang Penting?
Dengan memahami bagaimana otak bekerja, kita bisa:
- Lebih sadar terhadap penyebab emosi dan tindakan kita sendiri.
- Mengembangkan strategi berpikir positif dan pengelolaan stres yang sehat.
- Membantu meningkatkan kesehatan mental dan hubungan sosial
Sumber Acuan
- Amin, M.S. (2018). Perbedaan Struktur Otak dan Perilaku Belajar Antara Pria dan Wanita; Eksplanasi dalam Sudut Pandang Neuro Sains dan Filsafat. Jurnal Filsafat Indonesia 1(1). ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN 2620-7990.
- Jannah, M. (2023). Perkembangan Otak Pada Masa Anak Usia Dini: Kajian Dasar Neurologi Dan Islam. Jurnal Pendidikan Anak Bunayya, 9(1). https://doi.org/10.22373/bunayya.v9i1.18499.
- Larasati, S. & Nurdian, Y. (2019). Konsep Neuroplasticity, Neurobehaviour, Neuroscience dalam Kehidupan. DOI:10.13140/RG.2.2.36699.92967.
- Teleanu, I.R., Niculescu, G.A., Roza, E., Vladâcenco, O., Grumezescu, M.A., & Teleanu, M.D. (2022). Neurotransmitters—Key Factors in Neurological and Neurodegenerative Disorders of the Central Nervous System. Int. J. Mol. Sci, 23 (5954). https://doi.org/10.3390/ijms23115954.