Stres merupakan respon tubuh Ketika menghadapi situasi atau kondisi yang dapat menyebabkan ketegangan emosi, perubahan dan sebagainya (Oktaviana, Herlina, & Sari, 2023). Stres juga dapat dimaknai sebagai respons alami tubuh terhadap tekanan atau tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat stres yang ringan dapat memotivasi, tetapi stres yang berlebihan bisa mengganggu kesehatan fisik dan mental. Mengelola stres secara efektif membantu menjaga keseimbangan hidup, meningkatkan produktivitas, dan kualitas hubungan sosial.
Menurut World Health Organization (2018) Stres menjadi salah satu factor yang beresiko paling signifikan untuk mengembangkan permasalahan mental atau penyakit mental. Pada tahun 2020 presentase individu dengan gangguan stres diperkirakan sekitar 74% (Oktaviana, Herlina, & Sari 2023). Tingkat prevalensi stres secara global mencapai tingkat memprihatinkan, sekitar 350 juta orang mengalami dampak stres, dengan prevalensi stres siswa di dunia mencapai 38,91% (WHO, 2023). Di Asia, prevalensi stres mencapai 61,3%, mencerminkan tekanan akademik yang tinggi. Semnetara di Indonesia, prevalensi stres mencapai 71,6%, menunjukkan berbagai tantangan dan tekanan yang dihadapi siswa (Rahmawati et al., 2020).

Kenali Penyebab Stres
Langkah pertama untuk mengatasi stres adalah mengenali sumbernya. Stres ini terjadi karena adanya stresor. Situasi, kondisi, objek, atau individu yang memiliki potensi untuk menimbulkan stres dinamakan stressor (Kholis et.al 2024). Jenis stressor pun beragam, ada yang dari dalam diri dan dari luar diri individu. Menurut Rice (dalam Seto et al, 2020), penyebab stres bersumber dari dalam diri (internal) dan bersumber dari luar diri (eksternal).
Kondisi Umum Penyebab Stres:
- Pekerjaan – Tekanan pekerjaan yang berat, deadline waktu yang ketat, tuntutan yang tinggi dan kurangnya kontrol atas pekerjaan menyebabkan kondisi stres. Konflik antara tuntutan kerja dan kehidupan pribadi juga dapat meningkatkan risiko stres.
- Masalah Ekonimi – Kondisi ekonomi yang tidak pasti seperti hutang yang menumpuk, ketidakstabilan keuangan atau masalah ekonomi lainnya dapat memicu ketegangan dan kecemasan secara signifikan.
- Perubahan Hidup – Perubahan besar dalam hidup, contohnya pernikahan, perceraian, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau kematian seseorang yang dicintai, dapat menjadi sumber stres.
- Konflik Interpersonal – Perselisihan dalam hubungan interpersonal baik di lingkungan keluarga, kerja, sosial (sekolah, tempat bermain), dapat menjadi pencetus stres.
- Mengidap Penyakit – Penyakit kronis, serius atau cedera dapat menjadi penyebab kondisi stres. Baik rasa sakit fisik maupun perubahan dalam kualitas hidup juga menjadi sumber stres.
- Lingkungan Sosial – Faktor-faktor sosial seperti kekerasan, perundungan, dikriminasi hingga tekanan sosial menjadi pemicu stres. Lingkungan yang tidak aman atau tidak stabil juga dapat meningkatkan risiko stress
- Perubahan Lingkungan – Perubahan lingkungan ini seperti perubagan iklim, bencana alam, polusi lingkungan dapat menjadi sumber ketidaknyamanan dan stres
- Tuntutan Keluarga – Tuntutan yang tinggi dalam peran sebagai pasangan, orang tua, atau anggota keluarga lainnya dapat menciptakan kondisi ini. Perubahan dalam dinamika keluarga atau tanggung jawab yang berlebihan juga dapat meningkatkan risikonya.
- Ketidakpastian Masa Depan – Adanya rasa khawatir dan perasaan tidak aman tentang masa depan menciptakan ketegangan emosional. Ketidakpastian dalam kehidupan, karir, pendidikan secara umum dapat menjasi stresor stres.

Strategi Menangani Stres Sehari-hari
Beberapa hal berikut dapat kita lakukan di kehidupan sehari-hari sebagai langkah awal menangangi stres
- Teknik Relaksasi. Ada beberapa contoh teknik relaksasi yang dapat diterapkan dalam sehari-hari, diantaranya a) Pernapasan dalam – Teknik relaksasi sederhana dapat dilakukan yakni pernapasan dalam. Tarik napas secara perlahan-lahan, tahan 2-3 detik lalu hembuskan melalui mulut. Ulangi langkah ini 5-10 kali. b) Meditasi – fokus pada napas atau afirmasi positif 5-15 menit. Metode ini menempatkan perhatian pada satu titik fokus bertujuan untuk mencapai ketenangan emosi dan mental. Meditasi berlandasakan pada prinsip mindfulness, dimana memungkinkan individu mengembangkan kesadaran penug pada momen saat ini (Febri, 2024). c) Progressive muscle relaxation – Tegangkan lalu lepaskan otot tubuh secara bergantian untuk mengurangi ketegangan fisik.
- Aktivitas Fisik. Melakukan olahraga ringan seperti bersepeda, jalan kaki, atau yoga dapat meningkatkan hormon endorphin (hormon perasaan senang dan bahagia) dan menurunkan hormon stress. Aktvitas fisik yang konsisten dan rutin mampu membantu mengalihkan pikiran dari permasalahan dan meningkatkan kualitas tidur.
- Manajemen Waktu. Membuat daftar prioritas kegiatan, tentukan kegiatan mana yang penting dan mendesak. Usahakan untuk menghindari menunda pekerjaan (prokrastinasi) yang dapat menambah beban stres. Sediakan waktu istirahat secara rutin, meskipun hanya beberapan menit di sela-sela kegiatan.
- Dukungan Sosial. Berbagi kisah atau keluhan (curhat) dengan keluarga, teman atau tenaga professional dapat meringkankan beban mental. Selain itu dapat juga bergabung dengan kelompok atau komunitas hobi dapat menumbuhkan perasaan keterhubungan dan dukungan emosional.
- Perubahan Pola Pikir. Merubah pola pikir dengan selalu menanamkan pikiran positif, seperti Saya bisa menghadapi tantangan ini satu langkah pada satu waktu. Cobalah mindfulness: fokus pada momen sekarang dan lepaskan kekhawatiran tentang masa lalu atau masa depan.
- Aktivitas Menyenangkan. Melakukan kegiatan atau hobi yang dapat membuat tubuh rileks seperti membaca, berkebun, atau mendengarkan musik.

Tips Tambahan untuk Mencegah Stres
- Tidur cukup (7–8 jam per malam) untuk memulihkan energi fisik dan mental.
- Konsumsi makanan sehat dan hindari kafein atau gula berlebihan.
- Batasi paparan berita atau media sosial yang dapat memicu kecemasan.
DAFTAR ACUAN
- Febri, H. (2024). Stres No More: Strategi Efektif Mengelola Stres di Tengah Kehidupan Digital. Coram Mundo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 6(2). https://doi.org/10.55606/corammundo.v6i2.383.
- Kholis, M.U., Lestrai, S.M.P., Luthfianawat, D., & Hermawan, D. (2024). Hubungan Jenis Stresor Dengan Tingkat Stres Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Tahap Awal Tahun 2023. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan 11(9). http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan
- Oktaviana, T.N., Herlina, & Sari, T.H. (2023). Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Stres Pada Mahasiswa Akhir Factors Influencing Stres Levels Of Final Year Students. Jurnal Keperawatan Tropis Papua 6(1). http://jktp.jurnalpoltekkesjayapura.com/jktp/index.
- Rahmawati, A., Mandagi, C., & Rattu, J. (2020). Hubungan antara tingkat stres dengan motivasi mahasiswa penulis skripsi di fakultas kesehatan masyarakat universitas sam ratulangi manado. Jurnal KESMAS, 9(7), 53–58. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/kesmas/article/view/31612
- Seto, S.B., Wondo, M.T.S., & Mei, M.F. (2020). Hubungan Motivasi Terhadap Tingkat Stress Mahasiswa Dalam Menulis Tugas Akhir (Skrips). Jurnal Basicedu Research & Learning in Elementary Education4(3). https://jbasic.org/index.php/basicedu/index.
- World Health Organization. (2023). Suicide