Di beberapa negara berkembang, masalah kesehatan mental belum menjadi suatu yang diutamakan dibandingkan dengan penyakit menular. Regulasi kebijakan Kesehatan mental dan implementasinya di Negara kita Indonesia, masih menjadi kesenjangan yang luas, terkait dengan masalah cakupan dan akses pada pelayanannya (Ayuningtyas, dkk., 2018; Ridlo & Zein, 2015). Padahal Kesehatan mental menjadi aspek yang penting demi terwudunya Kesehatan yang menyeluruh. Karenanya perlu dipahami bahwa Kesehatan mental juga pelu diperhatikan sama seperti kita memperhatikan Kesehatan fisik (jasmani). Seperti ungkapan dari WHO (2020) There is no health without mental health. Menurut WHO (2001) definisi Sehat tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan tetapi kondisi sejahreta fisik, mental, dan sosial.
Namun demikian masih ditemukan opini tentang Kesehatan mental disalah artikan sebagai “sekadar merasa bahagia” atau “tidak stres.” Kesehatan mental jauh lebih dalam dari sekadar suasana hati. Kesehatan mental mencakup bagaimana kita berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Sama seperti tubuh yang butuh nutrisi dan istirahat, pikiran pun membutuhkan perawatan. Di sinilah self-care menjadi elemen penting.

Kesehatan Mental Bukan Hanya Tentang Mood
Masih banyak pola pikir Masyarakat bahwa Ketika mereka “tidak depresi” atau “tidak cemas,” berarti mental mereka sehat. Padahal Kesehatan mental itu merukana suatu kondisi yang dinamin. Kesehatan mental disini tidak hanya tentang mood sana namun menjadi lebih luas dari sekedar rasa senang dan sedih. Kita dapat memaknai kesehatan mental sebagai kondisi ketika seseorang berada dalam keadaan sejahtera secara emosional, psikologis, dan sosial, sehingga ia mampu:
Menyadari potensi dirinya — Seseorang yang sehat mental dapat mengenali kemampuan, kelebihan, dan keterbatasannya, serta merasa berharga.
Mengelola stres kehidupan sehari-hari secara wajar — Individu dapat menghadapi tekanan, masalah, atau perubahan tanpa kehilangan kendali diri.
Bekerja secara produktif dan efektif — Kesehatan mental yang baik membuat seseorang mampu fokus, berprestasi, dan berkontribusi di lingkungan kerja atau sekolah.
Menjalin hubungan sosial yang positif — Individu dapat berinteraksi dengan orang lain secara sehat, empatik, dan saling menghargai.
Berperan dalam komunitasnya — Orang yang sehat mental biasanya terlibat dalam kegiatan sosial dan memberi makna bagi lingkungannya.
Secara sederhana, kesehatan mental bukan hanya ketiadaan gangguan jiwa, melainkan juga mencakup kemampuan untuk berpikir jernih, merasa tenang, dan berperilaku adaptif terhadap tantangan hidup. Mood bisa berubah setiap hari, tapi kesehatan mental yang kuat memberi kita ketahanan emosional (resilience) untuk menghadapi perubahan itu tanpa mudah goyah.

Makna Self Care
“Self Care adalah kepedulian yang dilakukan individu terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri, termasuk kepedulian yang diberikan kepada anak-anak, keluarga, teman, dan orang lain di lingkungan sekitar dan komunitas lokal. Perawatan diri mencakup tindakan yang dilakukan individu dan pengasuh untuk diri mereka sendiri, anak-anak mereka, keluarga mereka, dan orang lain agar tetap bugar dan menjaga kesehatan fisik dan mental yang baik” (Iriss 2020). Menurut American Psychological Association (APA), self-care adalah upaya sadar untuk menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan emosional.
Dalam artikelnya, Fauza, Purwaningrum & Dewantoro (2022) menjabarkan bentuk self care ada dua yakni personal self- care dan professional self-care.
Pada Personal self-care meliputi:
- Perawatan fisik, mengotimalkan fungsi fisik dengan melakukan aktivitas fisik
- Perawatan psikologis dan emosional, berfokus untuk mempertahankan pandangan positif dalam pikiran dan membicarakan tuntutan yang muncul antara diri sendiri dan lingkungan.
- Perawatan sosial, dilakukan dengan membangun dan mempertahankan hubungan yang erat dan suportif untuk terus mendapatkan dukungan dari orang lain
- Perawatan spiritual, berkaitan dengan menumbuhkan iman, hubungan dan kedamaian.
Professional self-care meliputi: Ketelibatan helper dalam aktivitas professional, seperti workshop, pelatihan, loka karya dan kegiatan professional lainnya. Professional self-care ini dilakukan sebagai bentuk mempertahankan dan meningkatkan potensi profesional seorang helper.
Adapun bentuk sederhana lainnya yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Tidur cukup dan teratur
- Mengatur batas (boundaries) dalam pekerjaan dan hubungan
- Meluangkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan
- Mengungkapkan perasaan dengan jujur
- Mencari bantuan profesional saat dibutuhkan
Self-care bukan kemewahan, tetapi kebutuhan dasar untuk tetap berfungsi optimal — baik sebagai individu maupun bagian dari lingkungan sosial.

Mengapa Self Care menjadi Esensial?
Tanpa self-care, kita mudah jatuh dalam kelelahan emosional (emotional exhaustion) dan burnout. Menurut Wulandari & Widiasavitri, (2021). Self care membuat diri lebih optimal, membuat seseorang mampu mengontrol emosi dengan baik, membuat kita lebih mengetahui dan mencintai diri sendiri, membantu dalam berpikir lebih positif, kesehatan mental menjadi lebih baik, serta menjadi lebih mandiri (Wulandari & Widiasavitri, 2021). Adapun Self care menjadi suatu yang esensial:
- Menjaga keseimbangan emosional. Self-care membantu menstabilkan emosi, membuat kita lebih mampu berpikir jernih dan mengambil keputusan rasional.
- Meningkatkan produktivitas. Orang yang rutin melakukan self-care cenderung lebih fokus dan kreatif karena energi mentalnya tidak terkuras habis oleh stres.
- Meningkatkan hubungan sosial. Ketika kita merasa cukup dan tenang, kita lebih mampu hadir secara penuh bagi orang lain — entah pasangan, keluarga, atau teman.
- Mencegah gangguan mental. Self-care bukan solusi instan, tetapi dapat menjadi langkah pencegahan yang efektif terhadap depresi, kecemasan, dan stres kronis.
DAFTAR ACUAN
- Ayuningtyas, D., Misnaniarti, M., & Rayhani, M. (2018). Analisis Situasi Kesehatan Mental pada Masyarakat di Indonesia dan Strategi Penanggulangannya. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 9(1). https://doi.org/10.26553/jikm.2018.9.1.1-10
- Fauza, Syifa., Purwaningrum, Ribut., Dewantoro, Adi. (2022). Implikasi Self-Care untuk Psychological Well-Being Pada Professional Helper. Jurnal Psikoedukasi dan Konseling 6(2). http://doi.org/10.20961/jpk.v6i2.67155
- Iriss. (2020). Self Care in Health and Social Care. Iriss On. The Institute for Research and Innovation in Social Services
- Ridlo, I. A., & Zein, R. A. (2015). Arah Kebijakan Kesehatan Mental: Tren Global dan Nasional serta Tantangan Aktual. Buletin Penelitian Kesehatan. https://doi.org/10.22435/bpk.v46i1.4911.45-52
- WHO. Mental Health Action Plan 2013 – 2020. Geneva: World Health Organization
- WHO. Basic Documents. 43rd Edition (2001). Geneva: World Health Organization
- Wulandari, G. A., & Widiasavitri, P. N. (2021). Self-Care Mahasiswa Sarjana Psikologi Dengan Ketertarikan Psikologi Klinis. Psycho Idea, 19(02), 1–14.