Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh. Namun bagi banyak remaja, sekolah justru menjadi sumber tekanan yang mengganggu kesehatan mental mereka. Tugas menumpuk, tuntutan nilai tinggi, persaingan yang ketat, hingga relasi sosial yang tidak selalu mudah—semuanya bisa menjadi beban yang berat bagi remaja yang masih belajar mengelola diri. Pada remaja, stres yang sering terjadi adalah akibat tekanan akademik di sekolah. Prevalensi stres dan kegelisahan pada remaja di dunia memiliki rentang mulai dari 5%-70% (Mentari et.al., 2020). Stres merupakan reaksi yang tidak spesifik dari tubuh terhadap segala tuntutan, baik respon positif maupun respon negative (Seyle dalam Musabiq et.al, 2018). Pada dasarnya stres itu bagian dari kehidupan manusia, artinya setiap individu pasti merasakan ketegangan dalam hidupnya. Cara individu dalam menanggapinya pun berbeda-beda. Hal itu tergantung dari pengalaman yang dimiliki oleh setiap individu, kepribadiannya, dan kondisi lingkungan hidupnya (Sukadiyanto, 2010).

Mengapa Remaja Rentan Mengalami Stres Akademik?

Menjawab pertanyaan tersebut mari pahami dahulu tentang “remaja” itu sendiri. Remaja merupakan fase peralihan dari masa anak menuju dewasa dimana konteks perubahan pertumbuhan dan perkembangan sangat terlihat pada masa ini. Remaja dianggap sebagai masa “Strom and Stress” karena dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan masa dewasa, namun secara fisiologi dan psikologi belum sepenuhnya sempurna dan masih terus berkembang dari fase perkembangan anak-anak  (Ahsan & Ilmy 2018).

Masa remaja menurut Hurlock terbagi dua yakni awal dan akhir masa remaja. Masa remaja awal berlangsung kira-kira dari usia 13-16 tahun, dan remaja akhir dimulai dari usia 16/17 tahun – 18 tahun (Hurlock, 1980). Masa remaja adalah fase kritis ketika otak, emosi, dan identitas diri sedang berkembang pesat. Mereka belajar memahami siapa diri mereka, sambil menghadapi tuntutan akademik yang semakin kompleks. Sejalan dengan teori psikososial erikson, masa remaja periode perkembangan Identitas vs Kebingungan. Periode perkembangan anak beralih ke masa remaja, masa dimana mereka mulai mengeksplorasi identitas diri di bidang sosial dan profesional. Karena masa remaja dapat dilihat sebagai genesis penemuan diri, anak-anak berada di masa kecil dan masa dewasa. Namun, anak akan mengalami kebingungan peran jika mereka merasa tidak yakin atau bingung tentang siapa mereka (Kamila et.al., 2022).

Tugas perkembangan yang utamanya pada aspek emosional ini dikaitkan menjadi salah satu faktor hubungan stres pada remaja (Ahsan and Ilmy 2018). Pencapaian tugas perkembangan emosional yang itu ketika remaja mampu memenuhi berbagai kompetensi emosional pada masanya, seperti  sadar dengan emosi diri sendiri, mampu memahami emosi orang lain, mampu menggunakan emosi secara verbal, mampu berempati, mampu membedakan, memiliki pengalaman emosional internal yang subjektif dari ekspresi emosi eksternal, mampu mengendalikan gangguan emosi, sadar dengan setiap pesan emosional, dan mampu dalam pengelolaan emosional (Law dan Lee, 2011 dalam Ahsan & Ilmy 2018).

Pengalaman stres yang dialami anak selama masa remaja menjadi kekuatan untuk remaja bagaimana mereka mengatasi bermacam kejadian, tekanan dan stres sepanjang hidupnya. Ketika remaja mampu memenuhi tugas perkembangan emosionlanya dengan baik dan mampu mengelola emosi internalnya dengan lebih maka menjadi sumber daya pribadi dalam caranya menghadapi dan mengatasi pengalaman stres dimasa mendatang (Dervishi, Peposhi, and Ibrahimi 2020).

Mengapa Sekolah Bisa Jadi Sumber Stres?

Sekolah bisa menjadi sumber stres karena ada berbagai faktor, termasuk faktor akademik seperti banyaknya tugas dan deadline ketat, faktor eksternal seperti tuntutan prestasi dari orang tua dan persaingan ketat, serta faktor internal seperti pola pikir negatif tentang kemampuan diri sendiri. Stres juga dapat dipicu oleh masalah di luar akademik seperti bullying, kesulitan menyesuaikan diri, dan kondisi lingkungan sekolah yang kurang kondusif.

a. Faktor Akademik (Tekanan Akademik)

b. Faktor eksternal

c. Faktor internal

Dampak Stres Karena Tekanan Akademik pada Remaja

a. Dampak Psikologis – siswa menjadi mudah merasa cemas, mudah tersinggung dan marah, hilang motivasi untuk belajar hingga mengalami depresi.

b. Dampak Fisik – sakit kepala, gangguan tidur, lelah yang berkepanjangan, penurunan daya tahan tubuh dan masalah pencernaan (maag, asam lambung).

c. Dampak Sosial – siswa menjadi enggan untuk berinteraksi dengan lingkungan, sulit berkomunikasi hingga berkonflik dengan keluarga.

d. Dampak Akademik – penurunan konsentrasi, prokrastinasi (menunda nunda pekerjaan), nilai dan prestasi akademik menurun.

Bagaimana Sekolah Dapat Mengurangi Tekanan Akademik?

Beberapa hal yang dapat sekolah lakukan demi mengurangi tekanan akademis diantaranya:

  1. Menciptakan lingkungan yang mendukung – Menanampak kegiatan dan nilai positif di lingkungan sekolah dan guru memiliki peran untuk lebih empatik serta komunikatif.
  2. Menciptakan kurikulum yang seimbang – Memilih kurikulum yang tidak membebankan tugas berlebih pada siswanya. Menyediakan ruang untuk mengasah kreativitas siswanya.
  3. Penilaian yang lebih humanis – Membuat penilaian fokus pada perkembangan bukan nilai saja. Membuat penilaian lebih formatif bukan sekedar ujian akhir.
  4. Menyediakan layanan konseling – Membuat program koselor sebaya yang mudah diakses dan program literasi mengenai kesehatan mental.
  5. Kolaborasi sekolah dan orang tua – Membuat pelatihan parenting untuk mendukung anak dan mengurangi tuntutan serta tekanan berlebih di rumah.

Strategi Coping yang Bisa Dilakukan Remaja

a. Managemen waktu – di rumah anak dapat membuat jadwal terkait aktivitas kesehariannya dan menentukan prioritas kegiatan yang harus dilakukan paling utama.

b. Mengelola emosi – mulai menyadari tanda-tanda munculnya stres dan berlatih menggunakan teknik relaksasi ringan (relaksasi pernapasan) dan melakukan jurnaling.

c. Mencari dukungan – menyalurkan perasaan dan keluh kesah pada orang yang dipercaya seperti teman, orang tua atau guru. Mulai mengikuti kegiatan yang disenangi. d. Menjaga kesehatan fisik – rajin berolahraga 3 x dalam seminggu, konsumsi makanan sehat (hindari makanan instan), mengatur pola tidur yang cukup dan baik (tidak menggunakan gadget 1 jam sebelum tidur).

Sumber Acuan

Leave a Reply